Cool Blue Outer Glow Pointer

Cariiii ~

Kamis, 25 April 2013

DANDELION *\(^o^)/*


Hooooiii guys :))
Assalamu'alaikum~
udah ribuan juta tahun nih blog gak terjamah-__- sampe tadi gue nemu gelandangan tidur di dashbord gue (?)

okesip cukup pembukaan gakjelas nya..
naaahh kan ceritanya waktu itu gue sempet ikut lomba cerpen dari Tupperware CHC gituu, tapi grgr ada beberapa kesalahan teknis jadiii GAGAL!!  T^T
yaudahdeh, daripada mubazir jadi gewe posting ajee di mari huhuuyy
Enjoy it guuyyyss :** #muntah#

PLEASE DON'T COPY THIS ARTICLE WITHOUT PERMISSION !! :))


Sorrow, kota yang indah di sebuah negara yang menakjubkan, Pearl.
Di kota besar ini ternyata masih ada sebuah bunga cantik namun rapuh. Letaknya pun di sudut jalan, terhalangi dan terabaikan oleh ribuan kaki yang melangkah setiap hari dan berlalu lalang disana. Bunga indah itu bernama Dandelion.
                Setiap hari ia hanya termenung lesu di tempatnya tumbuh, sudut Bright Street. Hanya manusia-manusia dengan kaki-kaki besar dan kadang sebuah benda besi -dengan 4 atau 2 benda bulat yang berputar di bawahnya- lah pemandangan yang dapat ia lihat setiap hari. Jenuh memang, bahkan terkadang ia ingin sekali menyalahkan angin yang dulu membawanya ke sini. Ia rindu tempatnya dulu ketika ia masih berupa biji. Tempat tinggalnya dulu sangat asri, sejuk dan manusia disana pun sangat memperhatikan alam sekitar. Tidak seperti kota ini, yang gersang dan panas bahkan sejauh mata memandang tidak ada satu pun pohon yang terlihat, hanya sedikit semak semak di pinggir jalan. Hal yang paling menggelikan dari kota ini, manusia-manusia seolah tidak menyadari hal tersebut, mereka seakan tidak peduli dengan hal lain selain dirinya sendiri. “Sudah sebesar itukah keegoisan tumbuh di diri mereka?” pikir Dandelion.



Bunga Dandelion

                Lalu bagaimana bunga cantik itu mendapat cukup air dan segala sesuatunya untuk tumbuh? Kawan, percaya lah di antara ribuan manusia egois ini, disana masih ada Allah yang Maha Adil dan Maha Pengasih, jadi jangan khawatir kalau kalau Dandelion ini tidak mampu bertahan hidup.
Setelah sekian lama memendam kejenuhan, akhirnya waktu yang sudah lama ia tunggu pun tiba. Saatnya mengucapkan selamat tinggal pada kota ini, kota yang telah memberinya banyak pelajaran berharga. Semoga kota ini segera sadar dari keterbelakangan nuraninya sebelum Sang Pemberi Nurani benar-benar marah melihat tingkah mereka.
Saat itu alam berbaik hati mengirimkan angin lembut untuk menyapa Dandelion kita yang kesepian, mengajak serta bulu-bulu putih Dandelion untuk ikut bersamanya menjelajahi bumi dan mencari pelajaran-pelajaran baru yang alam suguhkan. Beberapa helai bulu putih pun akhirnya tergoda untuk ikut serta, perasaan riang dan penasaran menyelimuti mereka. Senang karna akhirnya mereka bisa bebas dan penasaran ke mana hembusan alam ini akan membawa mereka, serta di mana nanti mereka akan membina hidup masing-masing.
Putik-putik putih yang tersisa masih menunggu angin selanjutnya mampir ke rumah mereka, mengajak mereka berpetualang seperti saudara-saudara mereka. Ternyata hari ini sedang berpihak padanya, hanya perlu menunggu beberapa menit, hembusan yang sedikit lebih besar pun datang dan singgah sekian detik di rumah mungil mereka. Angin ini akhirnya membawa putik-putik yang lebih banyak dari yang pertama, selamat jalan kawan semoga kalian menemukan tempat baru yang lebih indah.
                Hampir semua putik telah memulai petualangan mereka, tapi tersisa 1 helai putik yang sepertinya belum rela meninggalkan tempat nya sekarang. Sebut saja putik terakhir itu dengan Light.
Apa aku akan menemukan tempat yang lebih baik?”
Bagaimana jika nanti aku terjatuh di tempat yang malah lebih buruk?”
Bagaimana kalau aku tidak bisa bertahan hidup di tempat baru?”
Bagaimana jika aku...”
Bagaimana jika...”
Bagaimana....”



Pikiran Light penuh dengan banyak kemungkinan lain yang beberapa diantaranya terdengar sedikit berlebihan.
“Pergilah! Cepat! tegur tangkai Dandelion
“Tapi.. aku.. aku belum siap” Light ragu
Tepat setelah Light selesai mengatakannya, saat itu juga datang satu hembusan lemah.
“Sekarang Light” bujuk tangkai Dandelion
“Tapi.. tapi..” Light masih ragu
“Jika kau tidak pergi sekarang, kau akan menyesal sepanjang umur mu” kata tangkai akhirnya “karna kau hanya akan mati mengering disini bersamaku”
Perkataan tangkai Dandelion tadi membuat Light terdiam, berpikir.
“Hey.. cepaat!!” kata tangkai Dandelion tak sabar
“Okee okee.. aku pergi sekarang! Kau senang?” seru Light saat ia mulai melepaskan diri dari tangkai yang baik.
Tangkai Dandelion tersenyum. Menikmati waktu yang perlahan membawanya pada titik akhir pertualangannya di dunia.
Light tertawa, menikmati perasaan lega yang membanjirinya.
“Selamat tinggal Bright Street” Light tersenyum

Dimulailah rangkaian kisah petualangan sahabat kecil kita, light.

                Detik demi detik terpaut menjadi menit, menit menit merangkai jam dan tiap jam bersatu menjadi hari. Genap sudah 2 hari light kecil terbang, bersenandung menikmati kebebasan, berbincang dengan sahabat baru nya si angin baik. “namaku Wind” katanya memperkenalkan diri.
                Tidak ada yang istimewa di hari pertamanya, hari itu hanya ia habiskan dengan menikmati sensasi bebas yang pertama kali ia rasakan. Tidak ada pelajaran yang ia dapat. Memasuki hari keduanya, ia mulai mencoba menggunakan waktunya dengan lebih bijaksana.
                Hari ini sahabat baru kita, Wind terlihat sedikit kurang bersemangat. Hembusannya terasa lemah.
“Ada apa?” kata Light penasaran
“Tak apa” seru Wind lemah
“Heei ayolaah, kita sudah jadi sahabat kan?” Light tidak sabar
“Sudahlah light, aku sedang tidak bersemangat” balas Wind malas
“Umm.. ayo kita istirahat sebentar, kau pasti lelah membawaku 2 hari ini” Light membalas
“Baiklah” jawab Wind tak acuh
               
                Mereka beristirahat sejenak di salah satu ranting pohon jati terdekat, 10 menit mereka lalui dengan hanya saling diam, berdialog dengan diri masing-masing tentang apa yang harus mereka lakukan untuk mengakhiri kebisuan ini.
“Ada apa dengan mu sebenarnya?” Light memulai
“Yaah sebenarnya tadi ketika kita melewati sungai aku melihat manusia…”
“ada apa dengan manusia?” potong Light
“bisahkah kau sabar? Aku belum selesai” kata Wind mulai kesal
“ups.. maaf” kata Light dengan tawa
“tadi aku melihat manusia membuang sampah sampah mereka ke sungai” sambung Wind sedih
“ooh, bukankah mereka memang sering begitu? Kau baru tau?” Tanya Light bingung
“aku tau mereka memang sering begitu, tapi bukan berati hal yang biasa dilakukan itu pasti baik! Itulah bahayanya, terkadang kita tau hal itu tidak baik tapi karena banyak yang melakukannya juga lantas hal itu berubah jadi baik? Seperti itu?” jawab Wind kesal
“yaah.. tidak seperti itu sih sebenarnya, hanya saja hal ini sudah terjadi dari puluhan tahun lalu, apa yang bisa kita perbuat?” lanjut Light
“Menghentikan kebiasaan, jangan lestarikan kebiasaan buruk” jawab pohon jati tiba tiba

Ternyata pohon jati yang mereka tumpangi tergoda untuk bergabung dalam dialog kedua sahabat itu. Hal yang tidak terduga ini membuat Light dan Wind terkejut.

“Hahaha maaf kalau mengejutkan kalian, aku sudah mencoba untuk tetap diam tapi ternyata tidak bisa, yaaa minimal aku sudah berusaha haha” kata pohon jati jujur
“tidak masalah sobat, semakin banyak yang bicara akan semakin seru perbincangan kita” seru Wind
“setuju haha” sambung Light
“oh iya ngomong-ngomong aku setuju dengan pendapat pohon jati” kata Wind mengawali perbincangan
“aku sebenarnya setuju, tapi bukan hal yang mudah merubah suatu kebiasaan begitu saja” Light ragu
“jangan kamu bayangkan kita akan langsung menghentikan semuanya, semua pasti ada tahapannya” jawab Wind
“tepat” pohon jati membenarkan
“hmm.. baiklah, tapi manusia pasti tau kalau membuang sampah dengan cara itu nanti pada akhirnya akan memancing banjir, tapi mereka tetap melakukannya. Berarti pasti ada keuntungan di balik itu semua” sanggah Light
“contoh lain, kalian pernah mendengar bahwa populasi hutan dunia semakin hari semakin menipis?” Tanya pohon jati
“ya pernah” jawab Light
“nah.. salah satu penyebabnya adalah menebangan liar pohon pohon di hutan dunia, apa cara itu ada keuntungannya bagi manusia? Ada” jelas pohon jati “misalnya seperti kami pohon jati, biasanya manusia menggunakan kami untuk membuat peralatan rumah tangga, jelas itu bermanfaat bagi mereka”
“lalu dimana letak kesalahannya?” Light tampak bingung
“coba bayangkan, jumlah penduduk dunia semakin hari semakin bertambah mengalahkan waktu kami untuk tumbuh kembali menjadi pohon setelah manusia mengambil kayu kami untuk mereka pakai, sedangkan manusia juga begitu malas menanam kembali pohon pohon baru untuk meneruskan generasi kami, jadi ini semua salah siapa? Salah kami yang tidak mampu tumbuh lebih cepat?” jelas pohon jati lagi
“umm.. yaaa umm..” Light speechless
“ketika nanti akhirnya pohon di dunia benar benar terancam punah, maka manusia pun akan mulai meributkan jumlah oksigen yang juga akan ikut menipis lalu mulai mengutuk diri sendiri karna kebodohan mereka dimasa lalu” tambah Wind
“tapi tetap saja kita tidak bisa mengubah itu semua dalam waktu dekat kan?” keluh Light
“karna itu tadi aku bilang semua ada tahap tahapnya” jawab Wind
“iyaa siih, tapi tetap saja… sulit” Light ragu
“tidak ada yang sulit selama mau berusaha. Banyak kok cara mudah yang dapat diusahakan untuk mengembalikan keseimbangan alam kita” seru pohon jati.
“contohnya?” Tanya Light
“banyak. Misalnya yang paling mudah adalah jangan buang buang kertas yang memang bisa di gunakan lagi atau bisa di daur ulang, masalahnya salah satu kebiasaan buruk manusia adalah mudah sekali membuang kertas kertas yang kadang baru di pakai sedikit atau malah hanya dipakai untuk hal yang tidak berguna” jelas pohon jati
“tapi hanya kertas, tipis, tidak terlalu berpengaruh” Light masih bingung
“itulah pikiran salah yang selalu dipelihara oleh hampir seluruh masyarakat dunia. Coba bayangkan, jika seribu manusia saja berpikir seperti itu, berapa kertas yang akan terus terbuang?” kata pohon jati
“hmm.. banyak” Light membayangkan
“benar kan? Tapi yang berpikiran seperti itu bukan hanya seribu manusia tapi ratusan ribu bahkan jutaan manusia, jadi berapa kertas yang terbuang? Berapa pohon yang di tebang sia sia hanya untuk hal sepele seperti itu?” pohon jati merenung
“sekarang paham Light?” Tanya Wind
“ya” jawab Light sambil tersenyum
“baguslah” pohon jati pun tersenyum
“baiklah, sepertinya kita harus berpamitan pada pohon jati, kita harus meneruskan perjalanan light” ajak Wind
“tunggu dulu” seru Light
“apa lagi?” kini Wind bingung
“kau pergilah Wind, aku tetap disini” jawab Light
“apa maksudmu?” Wind semakin tidak mengerti
“kamu silahkan lanjutkan perjalananmu, aku ingin tetap disini, masih banyak hal yang harus aku pelajari dari pohon jati tua ini” jelas Light
“jadi perjumpaan kita hanya sampai disini?” Tanya Wind sedih
“tenang sobat, suatu hari nanti kau boleh kembali kesini dan membawa putik-putik ku terbang untuk mencari pengetahuan lain di luar sana” jawab Light tenang “dan aku akan sangat menantikan saat itu tiba”
“baiklah Light kalau itu mau mu, sampai bertemu lagi, aku pasti akan kembali kesini” janji Wind
“sampai jumpa” balas Light tersenyum
“sampai jumpa pohon jati, titip sahabatku” pamit Wind ketika pergi
“ya, aku akan menjaga nya sampai kau kembali. Sampai jumpa” balas pohon jati

Wind pun pergi mencari pengetahuan pengetahuan lain yang belum sempat ia temukan bersama Light. Sampai jumpa sahabat pemilik tekad dan kepedulian tinggi, semoga waktu merestui perjumpaan kita selanjutnya.

Akhirnya...
Entah kenapa Light mungil ini merasa disinilah tempatku. Di pinggir sungai jernih, dibawah pohon teduh yang baik dan bijaksana.
Sekarang Light siap untuk tumbuh menjadi setangkai bunga Dandelion baru yang tak kalah indah dari yang dulu. Light yakin ia akan sangat menikmati waktu yang ia lalui sampai ia siap melepas putik putik nya nanti dan akhirnya akan tercipta lebih banyak lagi kisah petualangan yang lebih hebat.
The End J


nb : tolong di komentarin yaaa.. maklum masih pemula \('∇';)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Read more: http://www.kutulis.com/2012/02/cara-membuat-link-bergoyang-ketika.html#ixzz1tFYHiEJq