Hooooiii guys :))
Assalamu'alaikum~
udah ribuan juta tahun nih blog gak terjamah-__- sampe tadi gue nemu gelandangan tidur di dashbord gue (?)
okesip cukup pembukaan gakjelas nya..
naaahh kan ceritanya waktu itu gue sempet ikut lomba cerpen dari Tupperware CHC gituu, tapi grgr ada beberapa kesalahan teknis jadiii GAGAL!! T^T
yaudahdeh, daripada mubazir jadi gewe posting ajee di mari huhuuyy
Enjoy it guuyyyss :** #muntah#
PLEASE DON'T COPY THIS ARTICLE WITHOUT PERMISSION !! :))
Sorrow,
kota yang indah di sebuah negara yang menakjubkan, Pearl.
Di kota besar ini ternyata masih
ada sebuah bunga cantik namun rapuh. Letaknya pun di sudut jalan, terhalangi dan
terabaikan oleh ribuan kaki yang melangkah setiap hari dan berlalu lalang
disana. Bunga indah itu bernama Dandelion.
Setiap hari ia hanya termenung lesu di tempatnya
tumbuh, sudut Bright Street.
Hanya manusia-manusia dengan kaki-kaki besar dan kadang sebuah benda besi -dengan
4 atau 2 benda bulat yang berputar di bawahnya- lah pemandangan yang dapat ia
lihat setiap hari. Jenuh memang, bahkan terkadang ia ingin sekali menyalahkan
angin yang dulu membawanya ke sini. Ia rindu tempatnya dulu ketika ia masih
berupa biji. Tempat tinggalnya dulu sangat asri, sejuk dan manusia disana pun
sangat memperhatikan alam sekitar. Tidak seperti kota ini, yang gersang dan panas
bahkan sejauh mata memandang tidak ada satu pun pohon yang terlihat, hanya
sedikit semak semak di pinggir jalan. Hal yang paling menggelikan dari kota
ini, manusia-manusia seolah tidak menyadari hal tersebut, mereka seakan tidak
peduli dengan hal lain selain dirinya sendiri. “Sudah sebesar itukah keegoisan
tumbuh di diri mereka?” pikir Dandelion.
Bunga Dandelion
Lalu
bagaimana bunga cantik itu mendapat cukup air dan segala sesuatunya untuk
tumbuh? Kawan, percaya lah di antara ribuan manusia egois ini, disana masih ada
Allah yang Maha Adil dan Maha Pengasih, jadi jangan khawatir kalau kalau
Dandelion ini tidak mampu bertahan hidup.
Setelah
sekian lama memendam kejenuhan, akhirnya waktu yang sudah lama ia tunggu pun
tiba. Saatnya mengucapkan selamat tinggal pada kota ini, kota yang telah
memberinya banyak pelajaran berharga. Semoga kota ini segera sadar dari
keterbelakangan nuraninya sebelum Sang Pemberi Nurani benar-benar marah melihat
tingkah mereka.
Saat itu
alam berbaik hati mengirimkan angin lembut untuk menyapa Dandelion kita yang
kesepian, mengajak serta bulu-bulu
putih Dandelion untuk ikut bersamanya menjelajahi bumi dan mencari
pelajaran-pelajaran baru yang alam suguhkan. Beberapa helai bulu putih pun
akhirnya tergoda untuk ikut serta, perasaan riang dan penasaran menyelimuti
mereka. Senang karna akhirnya mereka bisa bebas dan penasaran ke mana hembusan
alam ini akan membawa mereka, serta di mana nanti mereka akan membina hidup
masing-masing.
Putik-putik
putih yang tersisa masih menunggu angin selanjutnya mampir ke rumah mereka,
mengajak mereka berpetualang seperti saudara-saudara mereka. Ternyata hari ini
sedang berpihak padanya, hanya perlu menunggu beberapa menit, hembusan yang
sedikit lebih besar pun datang dan singgah sekian detik di rumah mungil mereka.
Angin ini akhirnya membawa putik-putik
yang lebih banyak dari yang pertama, selamat jalan kawan semoga kalian
menemukan tempat baru yang lebih indah.
Hampir semua putik telah memulai petualangan mereka, tapi
tersisa 1 helai putik yang sepertinya belum rela meninggalkan tempat nya
sekarang. Sebut saja putik terakhir itu dengan Light.
“Apa aku akan menemukan tempat yang lebih
baik?”
“Bagaimana jika nanti aku terjatuh di
tempat yang malah lebih buruk?”
“Bagaimana kalau aku tidak bisa bertahan
hidup di tempat baru?”
“Bagaimana jika aku...”
“Bagaimana jika...”
“Bagaimana....”
Pikiran Light penuh dengan banyak
kemungkinan lain yang beberapa
diantaranya terdengar sedikit berlebihan.
“Pergilah! Cepat!” tegur tangkai Dandelion
“Tapi.. aku.. aku belum siap” Light ragu
Tepat setelah Light selesai mengatakannya, saat
itu juga datang satu hembusan lemah.
“Sekarang Light” bujuk tangkai Dandelion
“Tapi.. tapi..” Light masih ragu
“Jika kau tidak pergi sekarang, kau akan
menyesal sepanjang umur mu” kata tangkai akhirnya “karna kau hanya akan mati
mengering disini bersamaku”
Perkataan tangkai Dandelion tadi membuat Light
terdiam, berpikir.
“Hey.. cepaat!!” kata tangkai Dandelion tak
sabar
“Okee okee.. aku pergi sekarang! Kau senang?”
seru Light saat ia mulai melepaskan diri dari tangkai yang baik.
Tangkai Dandelion tersenyum. Menikmati waktu
yang perlahan membawanya pada titik akhir pertualangannya di dunia.
Light tertawa, menikmati perasaan lega yang
membanjirinya.
“Selamat tinggal Bright Street” Light tersenyum
Dimulailah rangkaian kisah petualangan sahabat
kecil kita, light.
Detik demi detik terpaut menjadi menit, menit menit merangkai jam dan tiap jam
bersatu menjadi hari. Genap sudah 2 hari light kecil terbang, bersenandung
menikmati kebebasan, berbincang dengan sahabat baru nya si angin baik. “namaku Wind” katanya memperkenalkan
diri.
Tidak
ada yang istimewa di hari pertamanya, hari itu hanya ia habiskan dengan
menikmati sensasi bebas yang pertama kali ia rasakan. Tidak ada pelajaran yang
ia dapat. Memasuki hari keduanya, ia mulai mencoba menggunakan waktunya dengan lebih
bijaksana.
Hari
ini sahabat baru kita, Wind terlihat sedikit kurang bersemangat. Hembusannya terasa
lemah.
“Ada apa?” kata Light penasaran
“Tak apa” seru Wind lemah
“Heei ayolaah, kita sudah jadi sahabat kan?” Light
tidak sabar
“Sudahlah light, aku sedang tidak bersemangat” balas
Wind malas
“Umm.. ayo kita istirahat sebentar, kau pasti
lelah membawaku 2 hari ini” Light membalas
“Baiklah” jawab Wind tak acuh
Mereka
beristirahat sejenak di salah satu ranting pohon jati terdekat, 10 menit mereka
lalui dengan hanya saling diam, berdialog dengan diri masing-masing tentang apa
yang harus mereka lakukan untuk mengakhiri kebisuan ini.
“Ada apa dengan mu sebenarnya?” Light memulai
“Yaah sebenarnya tadi ketika kita melewati
sungai aku melihat manusia…”
“ada apa dengan manusia?” potong Light
“bisahkah kau sabar? Aku belum selesai” kata Wind
mulai kesal
“ups.. maaf” kata Light dengan tawa
“tadi aku melihat manusia membuang sampah
sampah mereka ke sungai” sambung Wind sedih
“ooh, bukankah mereka memang sering begitu? Kau
baru tau?” Tanya Light bingung
“aku tau mereka memang sering begitu, tapi
bukan berati hal yang biasa dilakukan itu pasti baik! Itulah bahayanya,
terkadang kita tau hal itu tidak baik tapi karena banyak yang melakukannya juga
lantas hal itu berubah jadi baik? Seperti itu?” jawab Wind kesal
“yaah.. tidak seperti itu sih sebenarnya, hanya
saja hal ini sudah terjadi dari puluhan tahun lalu, apa yang bisa kita
perbuat?” lanjut Light
“Menghentikan kebiasaan, jangan lestarikan
kebiasaan buruk” jawab pohon jati tiba tiba
Ternyata pohon jati yang mereka
tumpangi tergoda untuk bergabung dalam dialog kedua sahabat itu. Hal yang tidak
terduga ini membuat Light dan Wind terkejut.
“Hahaha maaf kalau mengejutkan kalian, aku
sudah mencoba untuk tetap diam tapi ternyata tidak bisa, yaaa minimal aku sudah
berusaha haha” kata pohon jati jujur
“tidak masalah sobat, semakin banyak yang
bicara akan semakin seru perbincangan kita” seru Wind
“setuju haha” sambung Light
“oh iya ngomong-ngomong aku setuju dengan
pendapat pohon jati” kata Wind mengawali perbincangan
“aku sebenarnya setuju, tapi bukan hal yang
mudah merubah suatu kebiasaan begitu saja” Light ragu
“jangan kamu bayangkan kita akan langsung
menghentikan semuanya, semua pasti ada tahapannya” jawab Wind
“tepat” pohon jati membenarkan
“hmm.. baiklah, tapi manusia pasti tau kalau
membuang sampah dengan cara itu nanti pada akhirnya akan memancing banjir, tapi
mereka tetap melakukannya. Berarti pasti ada keuntungan di balik itu semua”
sanggah Light
“contoh lain, kalian pernah mendengar bahwa populasi
hutan dunia semakin hari semakin menipis?” Tanya pohon jati
“ya pernah” jawab Light
“nah.. salah satu penyebabnya adalah menebangan
liar pohon pohon di hutan dunia, apa cara itu ada keuntungannya bagi manusia?
Ada” jelas pohon jati “misalnya seperti kami pohon jati, biasanya manusia
menggunakan kami untuk membuat peralatan rumah tangga, jelas itu bermanfaat
bagi mereka”
“lalu dimana letak kesalahannya?” Light tampak
bingung
“coba bayangkan, jumlah penduduk dunia semakin
hari semakin bertambah mengalahkan waktu kami untuk tumbuh kembali menjadi
pohon setelah manusia mengambil kayu kami untuk mereka pakai, sedangkan manusia
juga begitu malas menanam kembali pohon pohon baru untuk meneruskan generasi
kami, jadi ini semua salah siapa? Salah kami yang tidak mampu tumbuh lebih
cepat?” jelas pohon jati lagi
“umm.. yaaa umm..” Light speechless
“ketika nanti akhirnya pohon di dunia benar
benar terancam punah, maka manusia pun akan mulai meributkan jumlah oksigen
yang juga akan ikut menipis lalu mulai mengutuk diri sendiri karna kebodohan
mereka dimasa lalu” tambah Wind
“tapi tetap saja kita tidak bisa mengubah itu
semua dalam waktu dekat kan?” keluh Light
“karna itu tadi aku bilang semua ada tahap
tahapnya” jawab Wind
“iyaa siih, tapi tetap saja… sulit” Light ragu
“tidak ada yang sulit selama mau berusaha.
Banyak kok cara mudah yang dapat diusahakan untuk mengembalikan keseimbangan
alam kita” seru pohon jati.
“contohnya?” Tanya Light
“banyak. Misalnya yang paling mudah adalah
jangan buang buang kertas yang memang bisa di gunakan lagi atau bisa di daur
ulang, masalahnya salah satu kebiasaan buruk manusia adalah mudah sekali
membuang kertas kertas yang kadang baru di pakai sedikit atau malah hanya
dipakai untuk hal yang tidak berguna” jelas pohon jati
“tapi hanya kertas, tipis, tidak terlalu
berpengaruh” Light masih bingung
“itulah pikiran salah yang selalu dipelihara
oleh hampir seluruh masyarakat dunia. Coba bayangkan, jika seribu manusia saja
berpikir seperti itu, berapa kertas yang akan terus terbuang?” kata pohon jati
“hmm.. banyak” Light membayangkan
“benar kan? Tapi yang berpikiran seperti itu
bukan hanya seribu manusia tapi ratusan ribu bahkan jutaan manusia, jadi berapa
kertas yang terbuang? Berapa pohon yang di tebang sia sia hanya untuk hal
sepele seperti itu?” pohon jati merenung
“sekarang paham Light?” Tanya Wind
“ya” jawab Light sambil tersenyum
“baguslah” pohon jati pun tersenyum
“baiklah, sepertinya kita harus berpamitan pada
pohon jati, kita harus meneruskan perjalanan light” ajak Wind
“tunggu dulu” seru Light
“apa lagi?” kini Wind bingung
“kau pergilah Wind, aku tetap disini” jawab Light
“apa maksudmu?” Wind semakin tidak mengerti
“kamu silahkan lanjutkan perjalananmu, aku
ingin tetap disini, masih banyak hal yang harus aku pelajari dari pohon jati tua
ini” jelas Light
“jadi perjumpaan kita hanya sampai disini?”
Tanya Wind sedih
“tenang sobat, suatu hari nanti kau boleh kembali
kesini dan membawa putik-putik ku terbang untuk mencari pengetahuan lain di
luar sana” jawab Light tenang “dan aku akan sangat menantikan saat itu tiba”
“baiklah Light kalau itu mau mu, sampai bertemu
lagi, aku pasti akan kembali kesini” janji Wind
“sampai jumpa” balas Light tersenyum
“sampai jumpa pohon jati, titip sahabatku”
pamit Wind ketika pergi
“ya, aku akan menjaga nya sampai kau kembali.
Sampai jumpa” balas pohon jati
Wind pun pergi mencari pengetahuan pengetahuan
lain yang belum sempat ia temukan bersama Light. Sampai jumpa sahabat pemilik
tekad dan kepedulian tinggi, semoga waktu merestui perjumpaan kita selanjutnya.
Akhirnya...
Entah kenapa Light mungil ini merasa disinilah tempatku. Di pinggir sungai jernih,
dibawah pohon teduh yang baik
dan bijaksana.
Sekarang Light siap untuk tumbuh menjadi
setangkai bunga Dandelion baru yang tak kalah indah dari yang dulu. Light yakin
ia akan sangat menikmati waktu yang ia lalui sampai ia siap melepas putik putik
nya nanti dan akhirnya akan tercipta lebih banyak lagi kisah petualangan yang
lebih hebat.
The End J
nb : tolong di komentarin yaaa.. maklum masih pemula \('∇';)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar